Pages

Senin, 16 Mei 2011

PERLUNYA SOSIALISASI KEPRIBADIAN POSITIF SEJAK DINI

Seorang individu harus ada pada dunianya. Kalimat tadi merupakan sebuah kalimat yang tidak berlebihan untuk sebuah tuntutan keproporsionalan seseorang dalam pekerjaannya, dengan tujuan seorang individu akan sesuai dengan status dan peran yang disandangnya. Mengerikan memang jika seorang individu menyandang status dan peran tertentu tapi sama sekali tidak ada asosiasinya dalam lingkungan nyata. Rendahnya motivasi dari dalam diri mungkin bisa jadi merupakan sumber dari masalahnya. Lingkungan yang tidak mendukung, sarana dan prasarana yang tidak tersedia, keterbatasan ekonomi, dan masalah lainnya adalah faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat motivasi dan minat yang berasal dari luar individu. Sebenarnya permasalahan seperti ini dapat diatasi, apabila antar anggota masyarakat peka terhadap keadaan lingkungan sekitarnya. Perekomendasiannya mungkin kita harus kembali kepada budaya kekerabatan (persaudaraan). Pada pola budaya kekerabatan ini antara satu anggota masyarakat dengan masyarakat lainnya akan saling kontrol keadaan, dengan tidak mementingkan ego dan politiknya masing-masing, selain itu penyimpangan prilaku-prilakupun dapat dikontrol secara sosial.

KITA TERLALU SIBUK DENGAN PARADIGMA KAPITALIS

Seringkali kebahagiaan kita ukur dengan perolehan materi yang berlimpah-ruah, sehingga kita terus berusaha dan berpikir bagaimana caranya agar sampai pada cita-cita tersebut. Mungkin bagi orang tua, tidak jarang menghabiskan waktu di tempat kerja, selesainya kerja cape, kemudian lantas pergi tidur. Sedang anak jarang mendapat perhatian aktivitas dari kedua orang tuanya, jika orang tua yang perduli terhadap aktifitas anaknya maka setidaknya ia akan mengajukan pertanyaan: bagaimana sekolahnya tadi?, atau materinya mengenai apa tadi disekolah?. Biasanya bagi orang tua dengan tipe acuh terhadap aktivitas anak, hanya akan mendorong anaknya untuk maju dengan mencukupi keuangannya saja. Sehingga nampak orang tua hanya berfungsi sebagai donatur. Dengan demikian biasanya seorang anak akan tidak puas dengan perihal keadaan yang sedemikian, sehingga untuk memuaskan keinginanya anak harus mencari pengalamannya diluar, dengan akibat yang tidak diketahui olehnya. Namun demikian setiap orang tua selalu mengharapkan kebaikan pada anaknya.

PENYIMPANGAN PERILAKU PADA ANAK

Seorang anak yang mencari pengalaman diluar selalu berusaha mencari jati dirinya. Sehingga berbagai relasipun ia jalin dengan siapa saja yang dikenalnya. Pada hakikatnya jati diri itu akan diperoleh seorang anak dengan cara bersosialisasi, yang dimulai dari tahap mengidentifikasi (meniru), bermain peran, dan siap bertindak. Apabila pada proses sosialisasi pigur yang diidentifikasi dianggap baik untuk ditiru, maka tak ayal anak akan menirunya, -tanpa pemikiran darinya – memang anak belum berkembang pola pikirnya dan masih dalam keadaan emosi labil. Oleh karena itu, keluarga sebagai media sosialisasi primer bagi anak, diharapkan memiliki daya ekstra untuk mengenalkan status, peran, nilai dan norma yang ada pada lingkungan masyarakat, sehingga secara tidak langsung kepribadianpun diajarkan kepadanya. Dengan demikian anak telah memperoleh pelajaran pertamanya di lingkungan keluarga.

FAKTA DAN DATA MEMBUKTIKAN
Sorang anak yang terbiasa menyebut kata “anjing” kepada teman sepermainannya, ia sama sekali tidak merasa dirinya bersalah, bahkan ia menganggap hal itu wajar-wajar saja, dengan alasan sudah akrab dan dekat persahabatannya. Namun bila dilihat dari segi nilai dan norma yang berlaku hal yang demikian tidak wajar adanya, artinya telah melakukan penyimpangan nilai, norma, dan moral bahkan dapat dikatakan etika dan tatakramanya kurang.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa keprofesionalan seseorang dapat dicapai melalui proses sosialisasinya sejak kecil. Adapun sosialisasi tersebut adalah sebagai proses pembentukan kepribadian seseorang; Keberhasilan ini bisa dilihat dari bagaimana seorang individu membawakan status dan peran yang disandangnya dengan baik, dengan penuh tanggung jawab, proporsi, dan proporsional, -dengan tidak mengesampingkan aturan nilai, norma, etika dan tatakrama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar