Pages

Senin, 16 Mei 2011

ANALISIS STRATA NORMA PUISI

Analisis strata norma puisi, digunakan untuk mengetahui semua unsur (fenomena) yang terkandung dalam karya sastra.
Sebuah karya sastra terdiri dari berbagai strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma dibawahnya. Rene Welek (1968: 151), mengemukakan analisis roman Ingarden, seorang filsuf Polandia, dibukunya Das Literarische Kunstwerk (1931). Ia menganalisis norma-norma sebagai berikut:
A. Lapis bunyi (sound stratum), dalam lapis ini yang terkandung merupakan rangkaian bunyi yang dibatasi jeda, tekanan nada, tempo dll.
B. Lapis arti (unitsof meaning), yang berupa rangkaian fonem, suku kata, frase dan kalimat. Kalimat membentuk alinea, bab, dan keseluruhan cerita.
C. Lapis ketiga:
a. Latar (tempat, waktu, dan suasana),
b. Pelaku,
c. Objek yang dikemukakan,
d. Dunia pengarang yang berupa lukisan atau cerita pengarang.
D. Lapis keempat, lapis dunia yang tak usah dinyatakan atau dikemukakan, tetapi sudah implicit.
E. Lapis kelima, lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi.

Roman Ingarden meninggalkan dua lapis norma, yang menurut Welek dapat dimasukkan kedalam lapis yang ketiga, adapun dua lapis norma tersebut adalah sebagai berikut:
a. Lapis dunia, yang terkandung didalamnya implied, artinya sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan terdengar atau terlihat.
b. Lapis metafisis, yang berupa sifat metafisis yang sublim (tragis, menakutkan dan mengerikan, dan yang suci)

Analisis puisi dapat dilakukan dengan memperhatikan:
A. Struktur
B. Unsur
C. Jenis/ragamnya
D. Kesejarahan
Analisis puisi berdasarkan unsur-unsurnya dapat meliputi:
a. Emosi,
b. Ide,
c. Imajinasi,
d. Pemikiran,
e. Nada,
f. Irama,
g. Imajeri,
h. Susunan kata,
i. Kata-kata kiasan,
j. Kepadatan,
k. Dan perasaan yang campur baur.

Untuk mencapai kepuitisan sebuah puisi dapat menggunakan:
A. Bentuk visual (tipografi)
B. Susunan bait
C. Bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan orkestrasi
D. Diksi (pemilihan kata)
E. Bahasa kiasan
F. Sarana retorika,
G. Unsure-unsur ketatabahasaan,
H. Gaya bahasa dsb.
ANALISIS SEMIOTIK

Karya sastra merupakan sebuah system tanda yang memiliki makna. Tiap-tiap fenomena (unsure) karya sastra mempunya makna (arti). Dengan menggunakan strata norma dan strata semiotik pada analisis, maka akan didapatkan makna sepenuhnya dan dapat dipahami sebagai karya seni yang bersifat puitis (estetis).
Analisis strata norma yang dihubungkan dengan semiotik dan fungsi estetik, adalah sebagai berikut:
Bunyi,
Meliputi:
orkestrasi musik: efoni (bunyi merdu dan teratur: B, D, G, J) dan kakafoni/cacophony (bunyi parau, tidak enak didengar, tidak teratur: K, P, T, S); Kombinasi vocal dan konsonan tertentu (aliterasi dan asonansi).
• efoni (bunyi merdu dan teratur: B, D, G, J), biasanya bunyi jenis ini digunakan untuk menggambarkan perasaan mesra, kasih sayang atau cinta serta hal-hal yang menggembirakan. Contoh pada puisi “ADA TILGRAM TIBA SENJA.”
• kakafoni/cacophony (bunyi parau, tidak enak didengar, tidak teratur: K, P, T, S), bunyi ini digunakan untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, serba tidak teratur bahkan memilukan. Contoh pada puisi “SODOM DAN GOMORRHA.”
Simbol bunyi: onomatope, kiasan suara, dan lambang rasa.
Sajak: awal, tengah, dalam, dan akhir.
“termasuk pembicaraan bunyi juga adalah Irama, Metrum, dan Ritme.”
Kata. Pembicaraan kata meliputi: kosakata, unsur dan aspek ketata bahasaan, masalah konotatif dan denotatif, pilihan kata (diksi), bahasa kiasan (figurative language): (Perbandingan/perumpamaan/simile, Metafora, Perumpamaan epos/ epic simile, Allegori, Personifikasi, Metonimia, dan sinekdoki/synecdokhe). citraan (imajeri), sarana retorika, gaya kalimat, serta gaya sajak.
IRAMA
Irama erat dengan bunyi. Irama “Rhythm.” (Ing); “Rhytme.” (Pr); dari kata Yunani “Reo.” Irama merupakan pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan dan pergantian bunyi bahasa secara teratur.
Irama dibagi dua, yakni metrum dan ritme.
• Metrum: irama yang tetap, artinya pergantian bunyi sudah tetap, menurut pola tertentu yang disebabkan oleh jumlah suku kata yang tetap dan tekanannya yang tetap, hingga alun suara yang menaik dan menurun itu tetap saja.
• Ritme: irama yang disebabkan pertentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang penyairnya saja.










Djoko Pradopo, Rachmat. 2000. Pengkajian Puisi. Gajah Mada University Press: Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar