Pages

Senin, 16 Mei 2011

KRITIK SASTRA YANG TIDAK MEMBANGUN DAPAT MERUSAK KERATIFITAS DAN MEMBUAT SESEORANG RENDAH DIRI TERHADAP KARYA SASTRANYA SENDIRI

14.05.2011, saya terima sebuah pesan singkat dari teman lama saya. Isinya seperti ini: ada 3 kesalahan dalam ceritamu
1. Seorang laki2 menak mne ade seleranye rendahan mskpn dia matrealistis
2. Ne2k dmana2 juga dach tua knp d tulis lgi tua.
3. Mungkin si laki2 itu tidak kaya, tp sama kayak kamu
OON.
Sekian.
Itulah pesan singkat yang saya terima dari nomer ponsel +628992652xxx, 14.05.2011 13:16. Sebelumnya saya kirim ia pesan anekdot kira-kira isinya seperti ini:
Seorang laki-laki tampan kemenakan, tapi ia matrealistis. Sedangkan ada seorang nenek-nenek tua, tapi ia kaya. Kemudian menikahlah keduanya. Setelah menikmati malam pertamanya laki-laki tampan itu meninggal, dengan mulut yang berbusa. Setelah di periksa oleh pihak RSU (rumah sakit umum), laki-laki tampan itu meninggal karena keracunan setelah meminum susu nenek yang sudah kadaluarsa.
Sekian.
Sebuah kritik merupakan suatu penilaian yang bebas dilakukan oleh siapa saja. Adapun penilain tersebut didasarkan pada pengetahuan dan ilmu pengetahuannya. Jadi sah-sah saja bagi siapapun untuk menilai, menanggapi, dan mengkritisi. Akan tetapi, walaupun demikian tetap didalam suatu penilaian: perhitungan baik-buruknya sesuatu; harus dilandaskan pada etika dan moral. Sebenarnya ketika seorang kritisi mengkritik, tiada lain ia sedang menelanjangi pengetahuan dan ilmu pengetahuannya. Jika dilihat secara objektif, benar kalau di dalam tulisan saya terlalu menghambur-hamburkan kata, sehingga ada kemungkinan informasi dan pesan yang hendak saya sampaikan menjadi kabur maknanya, - atau bahkan tidak dipahami sama sekali isi serta makna yang terkandung di dalam anekdot tersebut. Sebagai buktinya cobalah anda analisis tulisan yang saya miringkan tulisannya, terutama pada kata “seorang nenek-nenek tua, tapi ia kaya.” Mungkin dalam paradigma seorang kritikus konteks kata “nenek” saja sudah dapat mewakili bahwa seseorang tersebut telah lanjut usia. Berlainan demikian dengan tulisan saya “seorang nenek-nenek tua.” Tadinya saya berusaha sedapat mungkin memvisualisasikan seorang nenek yang telah lanjut usia dan renta. Sehingga diharapkan akan lebih tergambar sesuai dengan gambaran nyata di alam mimesis. Pendirian saya seperti itu didukung oleh teori kritik mimetik. Menurut Abrams, “kritikus jenis ini memandang karya sastra sebagai tiruan aspek-aspek alam. Sastra merupakan pencerminan atau penggambaran dunia kehidupan.” Dan seyogyanya suatu karya sastra harus dapat dilukiskan melalui media bahasa, agar karya tersebut estetis. Sehingga diharapkan makna dan informasi yang hendak disampaikan oleh penulis itu sampai kepada pembaca; sedangkan apabila seorang penulis tidak bisa melukiskan kehidupan sebenarnya pada media bahasa, maka yang akan terjadi hasil tulisannya hanya akan mengantarkan pada keruwetan makna dan tidak menutup kemungkinan hasil karyanya akan sia-sia belaka. Jangankan pembaca mengenali isi informasi serta pesan yang disampaikan penulis, toh makna katanya pun gelap, tidak bisa ditafsirkan karena kurangnya pembendaharaan kata pada penulis untuk mewakili ide, perasaan yang dialami penulis.
Alangkah indah jika kritik sastra dilakukan pada objek yang di kritisi (karya sastra), dan tentu saya seyogyanya harus meng-apresiasi kritik tersebut, walaupun kritik sastra tersebut sifatnya subjektif (tidak melihat karya, akan tetapi siapa yang menulis), namun demikian dengan ia mau mengkritisipun saya sudah bersyukur, artinya karya sastra saya di nilai orang lain. Sedang kita tahu bahwa nilai itu memiliki makna, sesuatu yang baik, indah dan dicita-citakan orang. Sungguh baik orang yang menilai karya sastra saya, karena ia saya nilai jujur, apa adanya, kritis dan saya acungkan jempol untuk ia.
Saya ucapkan terimakasih, dan supaya kritik itu menjadi pembangun motivasi dan mental bagi saya untuk terus berkarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar