Pages

Minggu, 24 April 2011

Kata “kesusastraan” berasal dari kata “susastra” yang memperoleh konfiks “ke—an”. Dalam hal ini, konfiks “ke-an” mengandung makna tentang atau hal. Kata “susastra terdiri atas dasar kata “sastra” yang berarti tulisan yang mendapat awalan “su” yang berarti baik atau indah. Dengan demikian, secara etimologi keta kesusastraan”berarti pembicaraan tentang berbagai tulisan yang indah bentuknya dan mulia isinya. Sementara itu Dr. Bun Sri Umaryati menguraikan bahwa hakekat sastra secara etimologis yaitu adalah bagus, indah: “sastra” yaitu tulisan. Dan ke-an” adalah kelompok, himpunan, jadi kesusastraan ialah himpunan tulisan yang indah, dan banyak lagi yang mendefinisikan tentang pengertian kesusastraan ini tergantung kepada teori yang digunakan untuk menjelaskannya.
Keindahan bentuk hasil kesusastraan yang kemudian lazim disebut karya sastra terlihat dari penampilan sosok fisik atau bentuknya yaitu prosa, puisi, prosa lirik, drama maupun bentuk lainya, baik yang tergolong kedalam kesusastraan lama, masa peralihan, kesusastraan modern bahkan kontemporer.
Dalam semua bentuk sastra yang dikemukakan tadi, ditilik dari persajakan atau persamaan bunyi, pengaturan lirik, pembentuan irama, pilihan kata, hingga penggunaan gaya bahasa dan berbagai cara penampilan yang menonjolkan aspek estetik, pada hakikatnya,adalah perwujudan karya sastra dari sisi pandang bentuk.
Sementara dari sisi pandang sisi, karya sastrra selalu menghadirkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan manusia. Dengan terpenuhinya dua persyaratan, yakni bentuk dan isi, orangpun mengatakan bahwa karya sastra merupakan Dulce Et Utile, artinya bila ditinjau dari segi bentuk karya sastra adalah sesuatu yang dapat menyenangkan hati, sedangkan bila dilihat dari segi isi, karya sastra memiliki nilai kegunaan bagi siapa saja yang mampu mengapresiasi. Karya sastra bukan sekedar dibaca dan dihayati sebagai pengisi waktu, melainkan didalamnya terkandung nilai-nilai yang bermakna bagi kehidupan.
Kebenaran akan makna yang diungkapkan diatas sudah cukup teruji sepanjang sejarah kebudayaan manusia. Kata-kata Empu Walmiki “selama gunung masih tegak dan laut masih bergelora, Ramayana akan berkumandang diseluruh dunia”, terbukti benar dan masih berlaku hingga saat ini.
Ramayana adalah sebuah kisah kepahlawanan yang memiliki zaman keemasan antara 200 tahun SM – 200 tahun M. Ramayana tetap eksis hingga sekarang, tidak tenggelam oleh gemerlapnya peradaban modern dengan segala pesonanya. Dengan diwakili oleh suatu karya sastra ini saja, kiranya mudahlah dimengerti bahwa karya sastra merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa dari kesusastraan yang dihasilkan dapat tercermin peradaban manusia pendukungnya.



Andriani, Rina. 2003. Diktat Sejarah Sastra. Bale Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar