Pages

Senin, 04 April 2011

Rangkuman

• Proses membaca tidak identik dengan proses mengingat. Yang terpenting adalah menangkap pesan atau ide pokok bacaan yang baik.
• Membaca sebagai sebuah proses psikologis dipengaruhi oleh faktor yang bersifat psikis, seperti motivasi, minat, latar belakang sosial-ekonomi, dan tingkat perkembangan dirinya, seperti intelegensi , dan usia mental (mental age).
• Membaca sebagai sebuah proses sensoris, dimulai dari melihat (bagi mereka yang normal ), dan meraba ( bagi mereka yang tuna netra), dalam hal ini yang di sensor adalah lambang-lambang bunyi
• Kesiapan penglihatan untuk membaca pada anak ada pada usia 5-6 tahun, karena telah dianggap telah memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi dalam pemfokusan pengaturan, dan pengubahan perasaan secara bebas.
• Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak-anak adalah kekeliruan kesipian (refrective eror), yakni kondisi mata yang tidak terpusat. Salah satu jenis keliru kesipian adalah hipermetropia (pandangan jauh). Kedua miopia (pandangan dekat). Ketiga astigmatisme (gabungan antara hipermetropia, dan miopia pada masing masing bagian mata).
• Membaca sebagai sebuah proses perseptual. Pada tahap ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni melihat, dan mendengar.
• Vernom (1962) “proses perseptual pada membaca terdiri atas empat bagian”.
1. Kesadaran akan rangsangan visual;
2. Kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata.
3. Klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada didalam teks yang umum;
4. Identifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya;
• Stimuli jika diasosiasikan akan memiliki makna.
• Untuk mengembangkan kemampuan membaca pada anak harus terjadi mediasi atau pengalihan pengalaman.
• Persepsi seorang anak berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, pengalaman, emosi, kematangan, dan kepribadian.
• Membaca sebagai proses perkembangan dimulai sejak seorang individu bersosialisasi.
• Kemampuan membaca bergerak teratur, oleh karena itu perlu adanya penyiapan kesiapan seorang anak pada taraf perkembangan kemampuan selanjutnya.
• Membaca merupakan proses yang dipelajari, yang dalam pemerolehannya sangat tergantung dari upaya yang dilakukan, dan proses yang dijalani.
• Membaca bukan suatu subjek melainkan suatu proses, oleh karena itu membaca dijadikan suatu alat untuk perolehan sumber pertolongan dalam persoalan, dan bukan sebagai tugas.
• Membaca sebagai proses perkembangan keterampilan berbahasa. “Membaca merupakan salah satu dari empat komponen keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis”. (Tarigan, 1980).
• Perkembangan membaca bersifat objektif, karena dalam perkembangannya tidak tergantung pada materi, metode, ataupun tingkatan-tingkatan akademis.
• Kemampuan membaca beersifat berlanjut pada seorang individu apabila individu menguasa keterampilan prasyarat.
• Kemampuan membaca dapat digeneralisasikan, jika seorang anak atau individu telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, sehingga tidak terjadi masalah dalam memaknai kata tersebut.




Sopyan Hardyansyah
Kelas B Semester Dua
Prodi Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar