Pages

Minggu, 03 April 2011

MENYIMAK, BERBICARA, MEMBACA, DAN MENULIS BESERTA HUBUNGANNYA

MENYIMAK, BERBICARA, MEMBACA, DAN MENULIS
BESERTA HUBUNGANNYA

Adanya pernyataan bahwa kegiatan membaca bukan hanya sekedar melafalkan tulisan dirasakan benar adanya. Ketika kita membaca jalinan kemampuan visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif, semuanya ikut terlibat pada saat kegiatan membaca berlangsung , bahkan jauh-jauh terjadi sebelum kegiata membaca tersebut dilakukan, khususnya hal tersebut terjadi ketika berkenaan dengan informasi apa yang hendak dicari, digali, atau dipelajari dan hal tersebut termasuk pada tujuan membaca. Ada beberapa tujuan ketika pembaca hendak membaca bahan bacaannya, misalnya membaca untuk tujuan studi (telaah ilmiah), membaca untuk tujuan menagkap garis besar bacaan, membaca untuk menikmati karya sastra, membaca untuk mengisi waktu luang, membaca untuk mencari keterangan suatu istilah dan lain sebagainya. Oleh karena itu menentukan suatu tujuan ketika kita hendak membaca merupakan hal yang mutlak direncanakan sebelum membaca supaya proses membaca akan lebih terarah. Penentuan tujuan membaca sesuai dengan keperluannya merupakan proses awal dari berpikir pembaca .
Membaca merupakan suatu kegiatan yang melibatkan organ mata untuk tujuan visualisasi pengenalan kata dalam satu kalimat, paragraph atau wacana. Hal ini dikarenakan penyampaian pesan informasi dikemas dalam bentuk lambang-lambang bunyi yang dinamakan dengan huruf dengan bahasa tertulis dan bukan melalui bahasa tuturan. Bahasa tulis dikatan lebih berstruktur, tetap, dan terorganisasi dengan baik, sehingga pesan yang berupa informasipun dapat mudah dipahami karena lebih sistematis, logis, dan kretif. Dapat dikatakan demikian karena pada suatu paragraph biasanya terdapat ide pokok atau gagasan utama dan gagasan pendukung untuk memperjelas ide pokok tersebut. Selain itu pemilihan kata untuk menyampaikan informasi atau pesanpun sering kali dipertimbangkan sebelumnya. Berbeda dengan bahasa tulis bahasa lisan atau bahasa tutur merupakan kebalikan dari bahasa tulis, yang bercirikan bahasanya kurang berstruktur, dan cenderung berubah-ubah, hal ini dikarenakan pada bahasa tutur aspek spontanitas adalah hal yang paling diutamakan.
Selain membaca sebagai proses visualisasi, dan melafalkan tulisan, membaca juga merupakan sebuah proses psikolinguistik. Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973). Dengan kata lain, proses psikolinguistik yang terjadi pada pembaca akan meliputi pada pemahaman hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur ini diperoleh, oleh karena itu kemampuan linguistik pembaca akan menentukan pada pemahaman pembaca terhadap bahasa tulis dalam bahan bacaan. Dapat dikatakan demikian karena pada saat membaca pembaca akan memulai mengidentifikasi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik yang ada terdapat dalam kalimat, paragraph, dan wacana.
Sebenarnya psikolinguistik itu sendiri terdiri atas dua morfem, yakni psikologi dan linguistik. Keduanya masing-masing memiliki konteks makna yang berbeda satu sama lain, namun keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materialnya saja yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian cara dan tujuannyapun juga berbeda. Akan tetapi setelah kedua bidang keilmuan tersebut tergabung menjadi satu, sehiungga menciptakan suatu bidang keilmuan yang akrab disebut dengan psikolinguistik. Psikolinguistik tersebut mempelajari bagaimana perilaku berbahasa alam konteks kebahasaan.
Haris (1970) menyebutkan bahwa kesiapan membaca adalah intelegensi umum. Dalam kegiatan membaca seorang individu mengalami proses psikologis, seperti intelegensi umum, usia mental, bahasa, kepribadian, sikap, kemampuan persepsi, dan tingkat kemampuan membaca. Tingkatan kemampuan membaca dibagi kedalam tiga ketas, yakni membaca literal, membaca kritis, dan membaca kreatif.
Kemampuan membaca literal merupakan kemampuan pembaca untuk memahami kata kata dalam kalimat, paragraph maupun wacana berdasarkan makna yang dipahaminya. Pada proses ini seorang pembaca literal belum sampai pada pemahaman persepsi mengenai bahan bacaannya dikarenakan belum ada tanggapan kritis pada teks bacaannya.
Berbeda dengan kemampuan membaca literal, pada tahap membaca kritis, seorang pembaca tidak sampai berhenti puas terhadap bahan bacaannya, baik uraian pengarang (sistematika penjelasan), bahasa yang dipergunakan, bahkan istilah ilmiah yang dipergunakan. Akan tetapi pada pembaca dengan kemampuan membaca kritis, pembaca berusaha untuk bertanya mengapa, dan bagaimana semua itu dapat terjadi. Oleh karena itu pada pembaca tahap ini, intelegensi umum sangat diperlukan sebagai modal utama untuk menanggapi permasalahan yang diketengahkan dalam bahan bacanya.
Sampai pada tahap membaca kreatif, pembaca pada tingkatan ini, selain kritis terhadap permasalahan konteks makna bacaan, serta disertai adanya usaha untuk mengaitkan dengan keadaan yang ada, pada tahap membaca kreatif seorang pembaaca berusaha untuk mengaplikasikan hasil dari ilmu pengetahuannya setelah membaca terhadap kehidupannya.
Sebelum melakukan aktivitas membaca seorang pembaca pada umumnya menetapkan tujuan ketika hendak memilih bahan bacaannya. Berkaitan dengan tujuan membaca, ada beberapa tujuan yang biasa digunakan oleh seorang pembaca sebelum memulai aktivitas membacanya seperti:
• Membaca untuk mengisi waktu luang.
• Membaca untuk memperoleh informasi.
• Membaca untuk menambah ilmu pengetahuan.
• Membaca untuk menghibur diri (to entertain).
• Membaca untuk menemukan gagasan-gagasan suatu bacaan, dan lain-lain disesuaikan dengan tujuan pembaca.
Hubungan antara kegiatan membaca dengan proses menyimak. Membaca dapat dikatakan sebagai proses menyimak, dalam hal ini bahan yang disimak adalah bahasa. Bahasa itu sendiri merupakan “system lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri” (Kridalaksana, harimurti. 1993. Kamus Linguistik :21). Dalam bahasan ini bahasa yang disimak adalah bahasa turunan dari parol atau ujaran, yakni bahasa tulis. Penyimak: Jika menyimak bahasa tuturan, yang disimak merupakan lambang-lambang bunyi dari sipenutur, sedangkan penyimak: jika menyimak bahasa tulis, menyimak lambang bunyi yang dilukiskan dengan huruf. Huruf (letter, script, alphabet) “tanda yang dipakai dalam aksara untuk menggambarkan bunyi manusia”. (Kridalaksana, harimurti. 1993. Kamus Linguistik :79).
Hubungan antara menyimak dengan berbicara. Baik menyimak bahasa parole maupun bahasa tulis, keduanya memberikan manfaat dalam hal penambahan kosakata bahasa. Kosakata bahasa diikuti dengan pemahaman akan penempatan kosakata dalam konteks kebahasaan, sehingga penempatan fonem, morfem, frasa, klausa, dalam bahasa ujaran, terasa terstruktur dengan baik. Dengan kata lain seorang penyimak bahasa baik itu bahasa parole maupun bahasa tulis, penyimak bahasa akan mengalami proses perkembangan linguistik pada dirinya.
Pemahaman akan penempatan kosakata sebagai alat dalam bahasa untuk berkomunikasi, bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri akan bermanfaat sebagai alat untuk bersosialisasi dengan anggota masyarakat sehingga ada analogi mudah diterima, karena bahasa yang mudah dimengerti, dipahami, dan disepakati bersama oleh masyakat.
dari menyimak lambang-lambang lisan yang telah dilakukan individu sejak ia bersosialisasi dengan bahasa ibu (mother language), yang dimulai dengan tahap meniru bunyi sampai akhirnya individu tersebut dapat berbicara untuk berkomunikasi, bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bila seorang individu hanya menguasai satu bahasa saja, yakni bahasa ibu atau mother language, seorang individu tersebut dapat dikatakan memiliki kemampuan mono language, sedangkan individu jika ia dapat manguasai labih dari satu bahasa, maka individu tersebut dikatakan poly language. Bahasa lisan seringkali berubah-ubah atau tidak berstruktur, sehingga seringkali pesan yang hendak disampaikan tidak terfokus kepada titik permasalahan, dikarenakan sifatnya yang spontan, dan tidak terencana. Berbeda dengan bahasa tulis sifatnya yang terencana melalui pemikiran-pemikiran terlebih dahulu, membuat bahasa tulis dapat distrukturisasikan secara baik sebelum ditulis dalam bentuk kata, dan konteks kata untuk menyiasati paradigma dalam berkomunikasi, sehingga pesan yang hendak disampaikan oleh sender kepada receiver mudah dipahami, dan dimengerti, maksud serta tujuannya.



Penulis,

Sopyan Hardyan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar