Pages

Minggu, 10 April 2011

KEBIASAAN BAIK FISIK MAUPUN MENTAL YANG HARUS DIKEMBANGKAN AGAR DAPAT MEMBACA DENGAN BAIK

KEBIASAAN BAIK FISIK MAUPUN MENTAL YANG HARUS DIKEMBANGKAN AGAR DAPAT MEMBACA DENGAN BAIK

Sebagai proses psikologi membaca pada perkembangannya akan dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya psikologi membaca, seperti intelegensi umum, usia mental, jenis kelamin, tingkat sosial ekonomi, bahasa, ras, sikap, pertumbuhan fisik, kemampuan persepsi, dan tingkat kemampuan membaca. Diantara faktor-faktor tersebut menurut Harris (1970), bahwa factor terpenting dalam masalah kesiapan membaca adalah intelegensi umum.
Pada setiap teks bacaan akan dijumpai beragam tingkatan teks bacaan, ada teks bacaan yang kesulitannya rendah, sedang, dan tinggi. Adanya tingkatan dalam teks bacaan merupakan salah satu karakteristik materi bacaan, dan pembaca itu sendiri. Untuk karya nonfiksi seperti sejarah-sejarah yang mencantumkan detail kejadian, nama-nama tokoh, periodiasi, dan lainnya yang berhubungan dengan fakta misalnya, akan lebih sukar untuk direspon apabila bacaan teks tidak sistematis, sehingga terkesan terputus-putus. Sedangkan suatu bacaan akan direspon dengan baik apabila bacaan tersebut sistematis, logis, dan kreatif penyampaianya. Hingga akhirnya pemahaman akan perseptual pembacapun terbangun dengan baik.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa tingkat bacaan akan berpengaruh terhadap persepsi, dan pemahaman seorang pembaca. Untuk itu pemilihan akan teks bacaanpun perlu diperhatikan adanya. Sebelum membaca biasanya seorang pembaca akan merumuskan tujuannya dalam membaca. Adanya hal demikian dapat membantu pembaca untuk memilih jenis bacaannya, apakah itu untuk menambah pengetahuan, dan wawasan keilmuannya atau hanya sekedar hiburan saja untuk mengisi waktu luang.
Ada beberapa jenis membaca yang didasarkan tujuan apa yang hendak dicapai pembaca. Adapun jenis-jenis membaca itu adalah sebagai berikut:
• Membaca intensif
Membaca intensif adalah membaca secara cermat untuk memahami teks secara tepat, dan akurat. Kemampuan membaca intensif adalah kemampuan memahami detail secara akurat, lengkap, dan kritis terhadap fakta, konsep, gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan yang ada dalam wacana tulis.

• Membaca ekstensif
Membaca ekstensif adalah membaca untuk kesenangan dengan penekanan pada pemahaman umum. Membaca ekstensif dilakukan dalam rangka menumbuhkan kesenangan dan kemauan membaca beragam wacana tulis dalam bahasa ttaet (bahasa yang sedang dipelajari). Dengan membaca ekstensif seseorang dapat meningkatkan kemampuan membacanya.

Membaca dimulai dengan aspek fisik, yakni mengenali kata-kata pada lembar cetakan dengan menggunakan organ mata. Oleh karena itu penggunaan pola gerak-pindah mata secara efektif diperlukan. Pada saat membaca mata akan bergerak berpindah-pindah dari satu sudut kesudut lainnya, untuk menangkap pengenalan fonem, morfem, klausa, frasa dalam suatu kalimat, paragraph, atau sampai pada wacana, hingga akhirnya diteruskan oleh otak untuk diproses sebagai suatu stimulus yang berasal dari luar organ tubuh manusia. Ketika pergerakan mata berlangsung sesekali mata akan melakukan fiksasi atau pemberhentian gerak mata pada suatu bagian kata atau mungkin kelompok kata, lalu mata kembali berpindah lebih lanjut kekanan dan berhenti lagi. Terkadang mata kembali kebagian yang telah lalu, yang seharusnya mata pada saat itu berpindah pada bagian teks selanjutnya. Gerak-pindah mata kembali kebelakang atau melakukan regresi akan menjadi suatu pengganggu bagi pembaca dalam memahami makna kalimat. Karena pada hakikatnya membaca merupakan suatu proses pengenalan kata-kata secara sintaksis-semantik. Adanya regresi pada saat membaca dapat pula menjadi pemecah konsentrasi pembaca pada saat membaca, karena kata-kata yang seharusnya berinterelasi satu-sama lain tiba-tiba terputus, karena adanya kata-kata yang tidak dipahami atau tidak diketahui arti maknanya. Oleh karena itu adanya perasaan percaya bahwa suatu konteks kata merupakan suatu kesinambungan yang membentuk interelasi makna merupakan suatu modal percaya untuk melanjutkan membaca pada teks yang selanjutnya.
Penggunaan sudut pandang yang salah ketika membaca dapat membuat saraf mata tegang. Hal ini dikarenakan adanya pemantulan cahaya terhadap mata, sehingga saraf mata merasa lelah. Walapun selain diakibatkan oleh penggunaan sudut baca yang salah, tingkat konsentrasi yang tinggi ketika membacapun secara fisik dapat mempengaruhi terhadap lelahnya organ fisik manusia. Oleh karena itu penggunaan sudut mata yang benar sekitar 90˚ dari titik pandang.
Mencegah aktivitas fisik yang berlawanan akan membantu agar fisik, dan mental tetap pada kondisi konsentrasi terhadap bahan bacaan. Memilih waktu yang sesuai untuk membaca adalah salah satu upaya untuk mencegah aktifitas fisik yang berlawanan pada saat kita membaca. Pilihlah waktu yang tingkat gangguannya minimal dengan kontras kebisingan yang disesuaikan dengan kebiasaan kita ketika kita berkonsentrasi.
Terdapat kebiasaan buruk ketika kita sedang membaca, seperti menggerakan kepala pada saat membaca, menggerak-gerakkan bibir saat membaca, dan menunjuk teks bacaan ketika sedang membaca. Adanya kebiasaan buruk ketika sedang membaca seperti telah disebutkan tadi dapat menghambat daya konsentrasi, memperlambat dan mengurangi pemahaman.
Adanya kebiasaan menggerak-gerakan kepala pada saat membaca berdampak pada rusaknya konsentrasi, memperlambat pemahaman akan bacaan, sehingga hasil membaca tidak optimal. Untuk itu perluaslah jangkauan mata terhadap bahan bacaan sehingga secara visual teks bacaan dapat disensor mata dengan jangkauan yang luas.
Pengenalan materi membaca yang dimulai membaca nyaring pada anak merupakan suatu usaha yang baik, sehingga anak belajar mengintonasikan bunyi bahasa secara ritmis, dengan tempo yang tepat. Selain itu juga dapat membantu anak untuk mengartikulasikan bunyi bahasa sesuai dengan titik artikulatoris yang dilakukannya. Untuk awal permulaan dalam membaca cara seperti ini bagus adanya. Akan tetapi berlanjut pada masa membaca tanpa suara, kebiasaan melafalkan bunyi bahasa yang dialihkan kepada membaca tanpa suara seringkali harus ada penyesuaian diri akibat adanya kebiasaan tadi, namun hal sedemikian ini sebenarnya dapat di kontrol dengan psikologi membaca, yang bisa dipengaruhi oleh faktor intelegensi umum, usia mental, jenis kelamin, tingkat sosial ekonomi, bahasa, ras, sikap, pertumbuhan fisik, kemampuan persepsi, dan tingkat kemampuan membaca. Pada orang dewasa idealnya psikologi membaca mereka telah berkembang, jika sering melatih diri dalam hal membaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar