Pages

Minggu, 24 April 2011

IBU AKU

Ada tamu cepat berjamu
Biar pahit gila, tetap ia berlanggan
Wah celaka, bila itu adalah susu
Bisa kering nanti segala puting
Kalau demikian adanya, aku takkan bisa menyusu kalau begitu
“Apa kita rebutan saja ya?”
Alamak apa yang dibawanya itu?
(Surat pelayanan tamu), dan aku tertawa
(perpanjangan), demikian juga
(ijin); (usaha) ”hm”,
Tentu aku tak mau kalah
Aku menangis sejadi-jadinya
Alamak! Dia pakai toa dikuping ibuku
BERKAS!; PERPANJANGAN!; IJIN!; USAHA!
LANJUT!
Aku jadi malu, sudahlah ibuku untukmu.

Sopyan. Hardyansyah
Bu…

Praktik.
Hak dan kewajiban, itu katamu, dulu
Ing ngarso sing tulodo
Ing madya mangun karso
Tut wuri handayani
Aku terharu dan merengek


Sopyan. Hardyansyah

CERITA IBU PADAKU

Sanggar atap debu
Nampak kumuh tek terurus
Belum lagi curut dan bau
Ku pandangi raut ibu,
Dan ku dengar-dengarkan ceritanya.

Katanya,
Kata ibu,
Bahasaku kini taklaku
Belum lagi anakku,
Mereka tak mau terkesan kampung,
dialek yang ku ajarkan banyak yang diganti,
bahkan tak di gunakan lagi.




Sopyan. Hardyansyah





TANYAKKU

Ibu mana kala kita kedatangan tamu,
Mengapa ibu suguhkan jamu.

Ibu tetangga kita bertamu,,,
Tapi mengapa katanya tak ada jamu

Ibu lihat tetangga kita masuk tv
Ibu mengapa yang diceritakan,
Tak ada jamu?! di rumah tetangga.

Ah,, masa iyah yah bu, tak ada jamu
Bu, ibu kita masih banyak cadangan bidang jamuan
Bukan?

Sopyan. Hardyansyah

Kamis, 14 April 2011

vintage paper

vintage paper

BAGAIMANA CARA MELAKUKAN PRABACA

Prabaca merupakan suatu usaha sebelum melakukan aktivitas membaca, dengan tujuan untuk mengidentifikasi ide-ide yang sangat penting yang terkandung didalam bacaan, dan memperhatikan aspek organisasinya. Berkaitan dengan prabaca seorang pembaca biasanya memilih terlebih dahulu teks bacaannya, agar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya. Beragamnya jenis teks bacaan dapat mempengaruhi terhadap pemahaman, dan apresiasi pembaca terhadap teks bacaannya, hal seperti ini biasa disebut respon.
Penetapan tujuan pada prabaca dapat membantu untuk memfokuskan pencarian terhadap isi teks yang akan dibaca, sehingga apa yang menjadi sasaran ketika menetapkan tujuan dapat ditemukan secara efektif, dan efisien. Berkaitan dengan tujuan membaca, ada beberapa tujuan yang biasa digunakan oleh seorang pembaca sebelum memulai aktivitas membacanya seperti:
• Membaca untuk mengisi waktu luang.
• Membaca untuk memperoleh informasi.
• Membaca untuk menambah ilmu pengetahuan.
• Membaca untuk menghibur diri (to entertain).
• Membaca untuk menemukan gagasan-gagasan suatu bacaan, dan lain-lain disesuaikan dengan tujuan pembaca.
Setelah merumuskan tujuan prabaca, tentu pemikiran terhadap teks bacaanpun akan dilakukan. Ketika kita telah mendapatkan buku yang dianggap dapat menunjang tujuan, pengorganisasian bacaanpun perlu diperhatikan, agar tercapai suatu kesistematisan keilmuannya. Suatu keilmuan dapat dikatakan sebagai ilmu, apabila sistematis, rasional, dan bersifat universal.
Prabaca dikatakan tidak berlaku apabila yang dibaca merupakan teks sasra seperti puisi, novel, hikayat dan lain sebagainya. Karena ide pokok tidak tersirat melainkan tersurat didalam paragraf. Sehingga untuk menemukannya perlu adanya pengkajian terhadap teks itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan media bahasa yang digunakan dalam sastra merupakan bahasa yang bersifat deotonatisasi dan bukan bahasa familiar yang sering digunakan sehari-hari. Bukan hanya itu saja seringkali makna yang diketengahkan bukanlah makna yang sebenarnya (konotasi).

Prabaca paling baik digunakan untuk tulisan ekspositoris, materi faktual yang benar-benar disusun dengan baik. Prabaca bukan merupakan strategi yang baik untuk dipakai ketika membaca novel, puisi, artikel naratif, essai, dan cerita pendek. Meskipun begitu, kita akan menemukan teknik prabaca sebenarnya mudah diadaptasikan pada bermacam-macam tipe tulisan yang dibaca.

Untuk melakukan prabaca, pembaca harus memperhatikan tiap-tiap item berikut:
a. Membaca Judul dan Subjudul
Judul mencerminkan seluruh topik suatu artikel atau bab; subjudul menampilkan fokus, aspek, atau pendekatan seluruh topik secara spesifik.

b. Membaca Pedahuluan atau Paragraf Pertama
Pendahuluan, atau paragraf pertama jika tanpa pendahuluan, membantu mengarahkan pada bab. Hal itu memberi Anda suatu ide di mana permulaan materi bacaan dan di mana hedingnya.

c. Membaca Masing-Masing Heading yang Ditebalkan (Dihitamkan)
Fungsi heading adalah sebagai label atau kalimat topik yang menjadi kandungan dalam suatu bagian yang mengikutinya. Dengan kata lain, suatu heding mengungkapkan topik utama bagian masing-masing. Memang boleh jadi tidak setiap bagian dalam bacaan memiliki heding, atau bacaan tanpa heding.

d. Membaca Kalimat Pertama di Bawah Heading
Kalimat pertama pada Anda sering berbicara tentang apa suatu paragraf itu atau bagian ide pokok. Tapi bagaimanapun Anda perlu waspada, beberapa tipe bacaan atau untuk gaya tulisan tertentu, kalimat pertama tidak berfunsgsi sebagai ide pokok. Kalimat pembuka malah boleh jadi digunakan sebagai suatu transisi atau pernyataan yang mengarahkan, atau boleh jadi dimaksudkan untuk menarik perhatian. Jika kalimat pertama tampaknya tidak penting, baca kalimat terakhir; sering kalimat ini merupakan bagian atau pengulangan bagian ide pokok.

e. Memperhatikan Kelengkapan Tipografis
Tulisan miring digunakan untuk menekankan terminologi dan definisi-definisi penting dengan menggunakan tipe tulisan yang condong (miring) dimaksudkan untuk membedakannya dari sisa paragraf. Grafik, bagan, gambar, tabel merupakan yang lain untuk menekankan dan penekanan biasanya dimaksudkan untuk membutiri sesuatu yang penting dalam sebuah bab. Pastikan untuk membaca judul gambar dan keterangan grafik, bagan, atau tabel. Perhatikan juga penomoran 1, 2, 3, pamakaian huruf a, b, c atau daftar formulir yang disajikan.

f. Membaca Paragraf Akhir atau Ringkasan
Ringkasan atau paragraf terakhir memberi pandangan ringkas suatu bab dan membantu Anda mengidentifikasi ide-ide kunci. Sering ringkasan merupakan kerangka butir-butir kunci dalam bab itu.

g. Membaca dengan Cepat Akhir Artikel atau Bab
Hal ini mungkin termasuk referensi, pertanyaan-pertanyaan, daftar kosakata, atau informasi biografi penulis. Bahan-bahan ini akan sangat berguna kemudian ketika Anda membaca dan mempelajari artikel atau bab, dan ini penting, sebagai bagian dari prabaca, untuk diperhatikan jika bahan-bahan itu tersedia. Jika di sana terdapat pertanyaan-pertanyaan, itu sangat berguna untuk membacanya dengan cepat karena hal itu menjadi indikasi apa yang penting di dalam sebuah bab. Jika daftar kosakata ada, bacalah selintas untuk mengidentifikasi istilah-istilah yang akan Anda perlukan saat membaca.

Selasa, 12 April 2011

Kesusastraan

Ada beberapa kategori yang dapat dimasukan kedalam sastra, seperti puisi, prosa, drama, kaligrafi, sajak, hikayat, pantun, gurindam, dan lukisan. Karena banyakna jenis karya sastra yang dapat digolongkan kedalam kategori sastra, maka sastra dibagi kedalam tiga genre, yakni puisi, prosa, dan drama.

Minggu, 10 April 2011

UPAYA YANG DAPAT DILAKUKAN AGAR DAPAT BERKONSENTRASI

UPAYA YANG DAPAT DILAKUKAN AGAR DAPAT BERKONSENTRASI

Konsentrasi merupakan suatu aktivitas dalam memusatkan perhatian terhadap sesuatu. Berkaitan dengan konsentrasi berikut ada beberapa cara untuk menjaga kefokuskan perhatian, diantaranya adalah:
• Memberi tujuan pada terhadap apa yang akan dilakukan
Pemberian tujuan merupakan salah satu upaya dalam perencanaan aktivitas yang akan dilakukan. Tujuan merupakan sesuatu yang hendak dicapai baik dalam jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Adanya penetapan tujuan berguna agar apa yang kita lakukan lebih terarah, lebih spesifik, dan apa yang akan dikerjakan nantinya tidak sia-sia. Sehingga aktifitas yang akan dilakukan lebih jelas perspektifnya.
Sebagai suatu contoh ketika seseorang hendak berwirausaha dalam bidang peternakan misalnya. Adanya pemilihan sektor wirausaha seperti bidang peternakan merupakan suatu keberminatan usahawan terhadap bidang yang akan digeluti dengan berbagai pertimbangannya. Tentunya dalam hal ini latar belakang tujuan yang hendak dicapaipun dirumuskan dengan teliti, apakah tujuan itu untuk mencari pengalaman berwirausaha, mempelajari ilmu sektor peternakan dan peluang pemasarannya, atau untuk tujuan komersialisasi semata. Dari contoh uraian tersebut dapat disimpulkan terjadi suatu kompleksitas tujuan untuk mencapai apa yang menjadi latar belakang dipilihnya suatu aktivitas dalam arti luas.

• Memilih tujuan yang mudah diselesaikan
Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa penetapan tujuan berguna untuk memperjelas apa-apa yang hendak dicapai dalam suatu aktivitas. Agar suatu aktivitas tidak terkesan ambisius, ingin segera diselesaikan, dan ingin cepat memperoleh hasil dari aktivitas hendaknya memilih tujuan yang mudah diselesaikan. Dengan cara ini tingkat kesabaran akan keinginan memperoleh hasil sebagai akibat dari penetapan tujuan yang diharapkanpun dapat dikontrol, karena waktu yang diperlukan serta biaya pengorbanan untuk mencapai tujuan tersebut tidak terlalu sulit, karena telah disesuaikan dengan daya individualitas masing-masing.

• Beri diri bonus
Adanya istilah bonus dalam konteks konsentrasi, merupakan suatu bentuk stimulus positif bagi tubuh untuk direspon oleh otak, -agar tetap semangat dalam berkonsentrasi.

• Tertariklah pada subyek
“Subjek merupakan bagian klausa berujud nomina atau frase nominal yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara”. (Kridalaksana, Harimurti. 1993 :204). Ada beberapa hal yang membuat kita tertarik pada subyek, seperti topik apa yang diketengahkan, bahasa komunikasi sekunder yang dipergunakan, dan adanya perasaan cocok dengan bahan yang dibaca.

• Mengkombinasikan antara mental dan fisik

Membaca merupakan proses psikologi. Sebagai suatu proses psikologis, kemampuan membaca dipengaruhi oleh intelegensi umum sebagai faktor yang terpenting. Faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental yang memiliki kaitan yang jelas dengan faktor lainnya, seperti: usia, sosial ekonomi, bahasa dan sebagainya.
Keterampilan membaca dapat dilihat sebagai suatu proses dan sebagai hasil (Burns, dkk. 1984). Sebagai suatu proses, membaca mencakup (a) proses visual, (b) proses berpikir, (c) proses psikomotorik, (d) proses metakognitif, dan (e) proses teknologi.
Pada sasat membaca, seorang pembaca melakukan aktivitas yang multi, dimulai dari aktivitas visual untuk membaca code penulis sebagai penyampaian pesan, dan informasi yang hendak disampaikan penulis, untuk menjadi sebuah decoding, hingga akhirnya sampai pada tahap Recording yang merujuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengasosiasikannya dengan bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Dalam proses membaca seorang pembaca akan memulai proses berpikir sesuai dengan tingkat kemampuan membaca yang dimiliki pembaca. Adapun tingkat kemampuan membaca tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pembaca literal

Pada pembaca jenis ini, seorang pembaca hanya membaca, dan menerima begitu saja ide-ide serta penjelasan penulis mengenai apa yang menjadi ide atau gagasanya itu.

b. Pembaca kritis
Untuk pembaca kritis, seorang pembaca mulai merespon dengan pemikiran-pemikirannya terhadap ide atau gagasan yang disampaikan penulis, sehingga tidak mudah menerima begitu saja, akan tetapi ide beserta penjelasan penulis akan dihubungkannya dengan pengalaman dalam lingkungan nyatanya.
c. Pembaca Kreatif
Tahapan ini merupakan tahapan tertinggi bagi seorang pembaca, yang mana pembaca bukan hanya berhenti pada membaca kritis, untuk mengetahui maksud , dan tujuan penulis serta dapat memberikan penilaian atau komentar, akan tetapi dilanjutkan dengan adanya praktik yang diterapkan dalam kehidupan nyatanya sebagai sebuah hasil dari aktivitas membacanya.

• Memfariasikan aktivitas membaca
Seringkali jika bahan bacaan tidak bervariasi, pembaca akan mengalami tingkat kejenuhan terhadap bahan bacaannya, sehingga untuk memperoleh konsentrasipun terganggu, karena kurangnya mood. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah memfariasikan bahan bacaan apakah itu bersifat karya fiksi maupun nonfiksi. Adanya perbedaan karakteristik seperti bahasa yang digunakan, dan ciri sifat masing-masing, dianalogikan dapat membuatu suasana batin agar tidak jenuh, sehingga tetap konsentrasi pada bahan bacaan.


• Membuat daftar pengganggu
Pada saat membaca seorang pembaca harus dapat berusaha mengurangi atau mengeliminasi hal-hal apa yang dapat mengganggu terhadap daya konsentrasinya, guna memperoleh informasi yang diperlukan secara sistematis, dan jelas. Untuk itu pembuatan daftar penggangu dapat menjadi suatu solusi untuk mengatasinya. Pembuatan daftar penggangu ini dapat ditulis dalam kertas atau media lainnya sehingga kita tidak perlu mengingat-ngingat aktvitas yang akan dilakukan setelah kegiatan membaca.

• Menggunakan sistem waktu secara konsisten
Beragamnya aktivitas yang harus segera diselesaikan merupakan suatu hambatan tersendiri untuk berkonsentrasi terhadap aktivitas yang sedang dijalani, terkadang banyaknya aktivitas menimbulkan perspektif mana dahulu yang harus diselesaikan. Untuk itu bantuan tekhnologi pemenejan waktu akan membantu mengatur jadwal waktu anda ketika beraktivitas. Untuk memenej waktu anda dapat memanfaatkan daftar kerja yang ada dalam tekhnologi handphone, dengan cara itu selain kita menuliskan daftar kerja kita juga akan dibantu untuk mengerjakan tugas lain sesuai dengan waktunya. Sehingga konsentrasi anda ketika beraktivitas tidak terganggu.karena konsisten dengan waktu yang ada.

KEBIASAAN BAIK FISIK MAUPUN MENTAL YANG HARUS DIKEMBANGKAN AGAR DAPAT MEMBACA DENGAN BAIK

KEBIASAAN BAIK FISIK MAUPUN MENTAL YANG HARUS DIKEMBANGKAN AGAR DAPAT MEMBACA DENGAN BAIK

Sebagai proses psikologi membaca pada perkembangannya akan dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya psikologi membaca, seperti intelegensi umum, usia mental, jenis kelamin, tingkat sosial ekonomi, bahasa, ras, sikap, pertumbuhan fisik, kemampuan persepsi, dan tingkat kemampuan membaca. Diantara faktor-faktor tersebut menurut Harris (1970), bahwa factor terpenting dalam masalah kesiapan membaca adalah intelegensi umum.
Pada setiap teks bacaan akan dijumpai beragam tingkatan teks bacaan, ada teks bacaan yang kesulitannya rendah, sedang, dan tinggi. Adanya tingkatan dalam teks bacaan merupakan salah satu karakteristik materi bacaan, dan pembaca itu sendiri. Untuk karya nonfiksi seperti sejarah-sejarah yang mencantumkan detail kejadian, nama-nama tokoh, periodiasi, dan lainnya yang berhubungan dengan fakta misalnya, akan lebih sukar untuk direspon apabila bacaan teks tidak sistematis, sehingga terkesan terputus-putus. Sedangkan suatu bacaan akan direspon dengan baik apabila bacaan tersebut sistematis, logis, dan kreatif penyampaianya. Hingga akhirnya pemahaman akan perseptual pembacapun terbangun dengan baik.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa tingkat bacaan akan berpengaruh terhadap persepsi, dan pemahaman seorang pembaca. Untuk itu pemilihan akan teks bacaanpun perlu diperhatikan adanya. Sebelum membaca biasanya seorang pembaca akan merumuskan tujuannya dalam membaca. Adanya hal demikian dapat membantu pembaca untuk memilih jenis bacaannya, apakah itu untuk menambah pengetahuan, dan wawasan keilmuannya atau hanya sekedar hiburan saja untuk mengisi waktu luang.
Ada beberapa jenis membaca yang didasarkan tujuan apa yang hendak dicapai pembaca. Adapun jenis-jenis membaca itu adalah sebagai berikut:
• Membaca intensif
Membaca intensif adalah membaca secara cermat untuk memahami teks secara tepat, dan akurat. Kemampuan membaca intensif adalah kemampuan memahami detail secara akurat, lengkap, dan kritis terhadap fakta, konsep, gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan yang ada dalam wacana tulis.

• Membaca ekstensif
Membaca ekstensif adalah membaca untuk kesenangan dengan penekanan pada pemahaman umum. Membaca ekstensif dilakukan dalam rangka menumbuhkan kesenangan dan kemauan membaca beragam wacana tulis dalam bahasa ttaet (bahasa yang sedang dipelajari). Dengan membaca ekstensif seseorang dapat meningkatkan kemampuan membacanya.

Membaca dimulai dengan aspek fisik, yakni mengenali kata-kata pada lembar cetakan dengan menggunakan organ mata. Oleh karena itu penggunaan pola gerak-pindah mata secara efektif diperlukan. Pada saat membaca mata akan bergerak berpindah-pindah dari satu sudut kesudut lainnya, untuk menangkap pengenalan fonem, morfem, klausa, frasa dalam suatu kalimat, paragraph, atau sampai pada wacana, hingga akhirnya diteruskan oleh otak untuk diproses sebagai suatu stimulus yang berasal dari luar organ tubuh manusia. Ketika pergerakan mata berlangsung sesekali mata akan melakukan fiksasi atau pemberhentian gerak mata pada suatu bagian kata atau mungkin kelompok kata, lalu mata kembali berpindah lebih lanjut kekanan dan berhenti lagi. Terkadang mata kembali kebagian yang telah lalu, yang seharusnya mata pada saat itu berpindah pada bagian teks selanjutnya. Gerak-pindah mata kembali kebelakang atau melakukan regresi akan menjadi suatu pengganggu bagi pembaca dalam memahami makna kalimat. Karena pada hakikatnya membaca merupakan suatu proses pengenalan kata-kata secara sintaksis-semantik. Adanya regresi pada saat membaca dapat pula menjadi pemecah konsentrasi pembaca pada saat membaca, karena kata-kata yang seharusnya berinterelasi satu-sama lain tiba-tiba terputus, karena adanya kata-kata yang tidak dipahami atau tidak diketahui arti maknanya. Oleh karena itu adanya perasaan percaya bahwa suatu konteks kata merupakan suatu kesinambungan yang membentuk interelasi makna merupakan suatu modal percaya untuk melanjutkan membaca pada teks yang selanjutnya.
Penggunaan sudut pandang yang salah ketika membaca dapat membuat saraf mata tegang. Hal ini dikarenakan adanya pemantulan cahaya terhadap mata, sehingga saraf mata merasa lelah. Walapun selain diakibatkan oleh penggunaan sudut baca yang salah, tingkat konsentrasi yang tinggi ketika membacapun secara fisik dapat mempengaruhi terhadap lelahnya organ fisik manusia. Oleh karena itu penggunaan sudut mata yang benar sekitar 90˚ dari titik pandang.
Mencegah aktivitas fisik yang berlawanan akan membantu agar fisik, dan mental tetap pada kondisi konsentrasi terhadap bahan bacaan. Memilih waktu yang sesuai untuk membaca adalah salah satu upaya untuk mencegah aktifitas fisik yang berlawanan pada saat kita membaca. Pilihlah waktu yang tingkat gangguannya minimal dengan kontras kebisingan yang disesuaikan dengan kebiasaan kita ketika kita berkonsentrasi.
Terdapat kebiasaan buruk ketika kita sedang membaca, seperti menggerakan kepala pada saat membaca, menggerak-gerakkan bibir saat membaca, dan menunjuk teks bacaan ketika sedang membaca. Adanya kebiasaan buruk ketika sedang membaca seperti telah disebutkan tadi dapat menghambat daya konsentrasi, memperlambat dan mengurangi pemahaman.
Adanya kebiasaan menggerak-gerakan kepala pada saat membaca berdampak pada rusaknya konsentrasi, memperlambat pemahaman akan bacaan, sehingga hasil membaca tidak optimal. Untuk itu perluaslah jangkauan mata terhadap bahan bacaan sehingga secara visual teks bacaan dapat disensor mata dengan jangkauan yang luas.
Pengenalan materi membaca yang dimulai membaca nyaring pada anak merupakan suatu usaha yang baik, sehingga anak belajar mengintonasikan bunyi bahasa secara ritmis, dengan tempo yang tepat. Selain itu juga dapat membantu anak untuk mengartikulasikan bunyi bahasa sesuai dengan titik artikulatoris yang dilakukannya. Untuk awal permulaan dalam membaca cara seperti ini bagus adanya. Akan tetapi berlanjut pada masa membaca tanpa suara, kebiasaan melafalkan bunyi bahasa yang dialihkan kepada membaca tanpa suara seringkali harus ada penyesuaian diri akibat adanya kebiasaan tadi, namun hal sedemikian ini sebenarnya dapat di kontrol dengan psikologi membaca, yang bisa dipengaruhi oleh faktor intelegensi umum, usia mental, jenis kelamin, tingkat sosial ekonomi, bahasa, ras, sikap, pertumbuhan fisik, kemampuan persepsi, dan tingkat kemampuan membaca. Pada orang dewasa idealnya psikologi membaca mereka telah berkembang, jika sering melatih diri dalam hal membaca.

Selasa, 05 April 2011

PERANAN PENTING MEMBACA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA PADA ABAD INI

Dewasa ini arus informasi serta dukungan teknologi menjadi trend masa kini. Dengan mudahnya suatu informasi dapat menembus serta menyebar keberbagai penjuru dunia dengan dukungan iptek yang memadai. Kemudahan suatu informasi untuk masuk kedalam batas-batas Negara sehingga batas Negara seakan-akan tidak ada merupakan suatu pengaruh dari adanya globalisasi. Globalisasi yang terjadi tentu tidak terlepas dari factor pendukungnya yakni perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Didalam lingkungan masyarakat kita mengenal adanya istilah status serta peran, yang mana diantara keduanya menuntut suatu kefrofesionalan yang sesuai dengan status dan peran yang disandangnya. Untuk dapat seperti itu tentulah diperlukan sosok individu yang melek akan posisi dan perananya serta memiliki kemampuan dalam bidangnya. Adapun hal yang dapat menyokong terciptanya individu yang seperti itu adalah kecerdasan intelegensi umumnya, sebuah kecerdasan intelegensi dapat didapatkan apabila banyak stimulus-stimulus dari lingkungannya untuk direspon secara positif. Stimulus disini merupakan sebuah rangsangan yang timbul dari lingkungan tempat dimana seseorang bersosialisasi. Seseorang yang banyak mendapatkan rangsangan atau stimulus positif dari lingkungannya dipastikan perkembangan kepribadian serta kecerdasan intelektualnya akan berkembang dengan baik, -sehingga tuntuta akan peran dan status yang disandang oleh seorang individupun akan sesuai dengan proforsi dan frofesional.
Membaca merupakan suatu cara alternative untuk mencapai tujuan diats yakni proporsi dan professional dalam status dan peran individu, karena ada suatu hasil, yakni memperoleh informasi. Selain menyimak televisi, siaran radio, dialog interaktif, dan hal lainnya yang dapat dikategorikan kepada media menyimak. Sebenarnya membacapun merupakan sebuah kegiatan menyimak , namun dalam bentuk menyimak bahasa turunan dari ujaran yakni bahsa tulis. Ketika sedang membaca seorang pembaca akan menemukan berbagai fonem, frasa, klausa, dalam suatu kalimat, paragraph sampai akhirnya wacana. Pada prose situ telah terjalin suatu komunikasi tak langsung dari penulis kepada pembaca, apakah dalam ide-ide pokok, gagasan-gagasan, paradigm-paradigma, dan hal lainnya yang berupa hasil dari cipta, karya, dan karsa manusia dalam memandang suatu fenomena, baik secara social maupun nonsosial untuk direspon keberadaannya. Dengan adanya hal ini pembaca diajak merenungkan dan mengaitkan apa yang dibacanya dengan keadaan sebenarnya secara tidak langsung, seorang pembaca diajak untuk berfikir. Hal ini dikarenakan dalam suatu bahasa selalu terkandung filsafat-filsafat tertentu yang dirasakan memiliki manfaat-manfaat tersendiri sesuai dari persfektif mana yang ditinjau.
Membaca merupakan suatu proses penyampaian pesan, dalam bentuk komunikasi tak langsung (tulis). Antara bahasa tulis dengan bahhasa tuturan sangat jauh berbeda adanya. Itu semua diisebabkan, pada bahasa tuturan bahasa yang dipergunakan lebih sering berubah-rubah, adanya kecenderungan perubahan ini dikarenakan pada bahasa tuturan biasanya bersifat spontanitas tidak direncanakan dan merupakan sebuah respon yang cepat, dan spontanitas. Berbeda dengan bahasa tulis yang memiliki kecenderungan terstruktur, terarah (fokus) pada pembahasan, dan berkesan formal. Adanya hal seperti itru karena memang pada bahasa tulis ada suatu perencanaan pertimbangan tujuan yang hendak dicapai dengan perhitungan efek paradigmatik yang akan diterima oleh pembaca, sehingga pesan yang akan disampaikanpun dapat diarahkan dengan baik.
Membaca berguna bagi pemahaman akan kebahasaan seseorang (linguistik). Seperti kita ketahui bahwa membaca merupakan salah satu dari kelanjutan proses sosialisasi kebahasaan , yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Seseorang yang terbiasa dengan bahan bacaan yang beragam seta topik yang mengetengahkan persoalan yang beragam pula, mampu menambah kosakata bahasa. Sehingga khasanah kosakata untuk mengungkapkan pesan dan informasi dapat ditunjang dengan kepemilikan kosakata yang diperoleh dari berbagai sumber bahan bacaan atau bahan simakan untuk dapat dilanjutkan pada tahap kebahasaan.